Bandung, Kompas - Kanker rongga mulut merupakan masalah kesehatan dunia yang serius karena kebanyakan kasus terdeteksi dalam keadaan lanjut. Seorang dokter gigi sepatutnya mampu mendeteksi lesi praganas dan kanker mulut dalam keadaan masih dini sehingga dapat segera ditanggulangi dan disembuhkan. Gejala sederhana, seperti sariawan yang berkepanjangan serta infeksi gigi, sebaiknya jangan disikapi sepele.
Demikian disampaikan ahli bedah mulut Dr drg Harmas Yazid Yusuf SpBM dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dalam Kongres Nasional IX Persatuan Ahli Bedah Mulut Indonesia di Bandung, Kamis (15/1).
"Meskipun data statistik di Indonesia belum ada, dapat diperkirakan 90 persen penderita yang datang umumnya sudah stadium lanjut," ungkapnya.
Kanker rongga mulut adalah kanker di rongga mulut dan faring (saluran yang terletak antara rongga hidung serta rongga mulut dan kerongkongan), termasuk kanker bibir, lidah, kelenjar liur, gusi, dasar mulut, dan bagian lain mukosa bukal. Pada tahap lanjut, kanker rongga mulut kerap sudah tidak dapat diautopsi atau dioperasi karena sudah menyebar jauh. Penyebaran tidak hanya di wilayah kepala, namun dapat juga mengenai organ lain, seperti kelenjar getah bening di leher, paru-paru, hingga lever. "Kalau sudah parah dan mau diautopsi, bisa-bisa kepalanya hilang. Karena itu, tindakan medis yang cepat dan tepat sangat penting," kata Harmas.
Masalahnya, petugas medis di daerah atau kawasan pelosok-karena keterbatasan peralatan-kerap kesulitan mendeteksi gangguan rongga mulut seperti sakit infeksi gigi biasa dengan yang bibit tumor. Padahal, pemeriksaan mendalam, termasuk foto scan, diperlukan.
"Akibatnya, orang yang giginya sakit, goyang, dikira infeksi gigi biasa, lalu dicabut. Jika itu sebenarnya tumor, pencabutan itu justru seperti mencetus tumor berkembang," papar Harmas.
0 comments:
Post a Comment